Minggu, 23 Februari 2014

Macam - Macam Unsur Intrinsik Novel Tahun 90'n


UNSUR INTRINSIK
NOVEL AZAB DAN SENGSARA
           

Judul               : AZAB DAN SENGSARA
Tema               : Kehidupan
Alur                 : Alur maju / progresif
Tokoh              : Utama           : Marianim
Figuran
  :
Sutan Baringin
Ibu Sutan Baringin
Nuria
Kasibun
Aminuddin
Ibu Aminuddin
Baginda Diatas

Watak              : Marianim                   : Sabar dan Patuh
  St.Baringin    : Suka berfoya-foya dan angkuh
  Ibu St.Baringin         : Baik hati
  Nuria                         : Ramah  
  Kasibun                     : Lelaki hidung belang dan jahat
  Ibu Aminuddin         : Pasrah
  Baginda Diatas         : Licik

Latar                           : Tempat          : Kota Sipirok
                                      Suasana        : Menyedihkan
                                      Waktu           : Masa lampau
                                                 
Sudut pandang            : Orang ketiga

Amanat                       : Harus sabar dan tabah menjalani kehidupan, walaupun
hidup tak semanis yang diinginkan.




UNSUR INTRINSIK
“ MISTERI GADIS TAK BERNAMA ”


1.      TEMA                         : DENDAM
2.      PENOKOHAN          :
A.    NYONYA ZAENAL             = seorang pembeli yang crewet
CITRA SUHENDAR             = pemilik butik citra seorang janda, ia menolong
Orang yang tidak diketauhi latar belakang
B.     ANI                                      = cantik dan misterius, tidak ada yang tahu
persis sia[pa ia seharusnya
C.    JOHAN                                 = supel, mudah, dan mudah bergaul
D.    DANI BURHAN                   = plin plan, baik, suka menolong
E.     PAK BURHAN                     = egois, suka marah – marah
F.     ROY SUHENDAR                = tampan, gagah, khas type pria sukses
G.    TITIN SUKANDAR              =crewet. Mudah putus asa
H.    KAPTEN POLISI                  =tangguh, tanggung jawab
I.       GOZALI                                 = jujur, tanggung jawab
J.      MBAK SRI                            = baik, pemurah, lugu
K.    SYAHRIR                              = penakut
L.     SELVI,KRISTI,EVI,TINA,WAHYU,MAYA,DEWI
 baik, setia kawan, tidak sombong
M.   DOKTER LEO                       = baik, jujur





UNSUR INTRINSIK NOVEL
SALAH PILIH

Judul Novel                : Salah Pilih
Pengarang                  : Nur Sutan Iskandar
Penerbit                      : Balai Pustaka, Jakarta
Tahun Terbit             : 1928 cetakan pertama

Unsur Intrinsik Novel

1.      Tema
Secara umum, tema dari novel yang berjudul Salah Pilih adalah Kesalahan Menentukan Pujaan Hati
2.      Latar
a.      Latar Tempat   
 :
Sebagian besar di daerah Minangkabau yaitu Maninjau, Sungaibatang, Bayur, dan Bukittinggi. Sebagian juga berada di Pulau Jawa
b.      Latar Waktu   
:
Siang hari
c.       Latar Suasana   
:
Mengharukan

3.      Penokohan
a.      Asri memiliki watak patuh terhadap orang tua, penyayang, lapang dada, sabar, terpelajar, dan berbudi baik
b.      Asnah memiliki watak baik, berbudi luhur, ramah, sopan, lembut, pemaaf, patuh kepada orang tua, dam sedikit tertutup
c.      Mariati memiliki watak baik hati walau terkadang sikapnya ketus dan asam dan penyayang
d.      Sitti Maliah memiliki watak baik hati dan penyayang
e.      Saniah (Istri Asri) memiliki watak pandai berpura-pura, angkuh, bicaranya kasar, dan suka menyindir
f.       Rusiah (Kakak Saniah) memiliki watak sabar, berbudi baik, dan lembut
g.      Rangkayo Saleah (Ibu Saniah) memiliki watak angkuh, sombong, dan tinggi hati
h.      Dt. Indomo (Ayah Saniah) memiliki watak baik hati, penakut, dan kurang tegas
i.        Kaharuddin (Kakak Saniah) memiliki watak rendah hati dan tidak sombong
j.        Mariah memiliki watak baik hati dan penyayang
k.      Dt. Bendahara memiliki watak teguh pendirian tetapi egois

4.      Alur
Novel tersebut disusun dengan alur maju karena jalinan cerita disusun dari awal sampai akhir.

5.      Amanat
Berpikirlah dengan bijak dan jangan mengambil keputusan secara tergesa-gesa agar tidak menjadi orang yang menyesal di kemudian hari.

6.      Sudut Pandang
Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga karena menggunakan nama orang.

7.      Gaya Bahasa
Novel ini sebagian besar menggunakan Bahasa Melayu dan terdapat sebagian kata yang tidak dipahami dalam Bahasa Indonesia, serta novel ini terdapat beberapa pribahasa.





UNSUR INTRINSIK
NOVEL (SITI NURBAYA)

Siti Nurbaya ( Kasih Tak Sampai )
Pengarang : Marah Rusli
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun Terbit : 1992
Tempat Terbit : Jakarta
Tebal : 271 halaman

Pelaku : Siti Nurbaya, Samsulbahri, Datuk Maringgih, Baginda Sulaiman, dan Sultan Mahmud.

UNSUR INTRINSIK:
Tokoh dan Karakter Tokoh
Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita, sedangkan watak, perwatakan, atau karakter menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh yang menggambarkan kualitas pribadi seorang tokoh. Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. Secara umum kita mengenal tokoh protagonis dan antagonis.
Karakter dan sifat Tokoh-tokoh pada Novel:
Siti Nurbaya                : baik, rela berkorban demi ayahnya.
Samsulbahri                 : baik, bijak, rela berkorban demi Siti Nurbaya.
Baginda Sulaiman       : Pasrah pada nasib, kurang bijak, rela mengorbankan anaknya demi membayar hutang.
Sultan Mahmud          : Kurang berpikir panjang, tidak bijak dan terlanjur terburu-buru dalam membuat keputusan.
Datuk Maringgih         : culas, moralnya bobrok, serakah, jahat, biang masalah.

Latar
Latar dalam sebuah cerita menunjuk pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan. Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi. Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu sebagai berikut:

Latar Tempat
Latar tempat merujuk pada lokasi terjadinya peristiwa. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu.
Latar tempat dalam Novel: Di kota Padang dan di Stovia, Jakarta (tempat sekolah Samsulbahri)

Latar Waktu
Latar waktu berhubungan dengan "kapan" terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan.
Latar Waktu dalam Novel: pada masa dimana Kota Padang masih terjadi banyak huru hara juga saat dimana moral masih bobrok.

Latar Sosial
Latar sosial merujuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan dosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup, istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, serta hal-hal lainnya.
Latar Sosial dalam Novel: Merupakan banyak mengandung unsur adat-istiadat Melayu.

Alur (Plot)
Alur adalah urutan peristiwa yang berdasarkan hukum sebab akibat. Alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, akan tetapi menjelaskan mengapa hal ini terjadi. Kehadiran alur dapat membuat cerita berkesinambungan. Oleh karena itu, alur biasa disebut juga susunan cerita atau jalan cerita. Ada dua cara yang dapat digunakan dalam menyusun bagianbagian cerita, yakni sebagai berikut. Pengarang menyusun peristiwa-peristiwa secara berurutan mulai dari perkenalan sampai penyelesaian. Susunan yang demikian disebut alur maju. Urutan peristiwa tersebut meliputi:
- mulai melukiskan keadaan :
Saat ayah siti Nurbaya masih sukses. (Bukti: Ibunya meninggal saat Siti Nurbaya masih kanak-kanak, maka bisa dikatakan itulah titik awal penderitaan hidupnya. Sejak saat itu hingga dewasa dan mengerti cinta ia hanya hidup bersama Baginda Sulaiman, ayah yang sangat disayanginya. Ayahnya adalah seorang pedagang yang terkemuka di kota Padang. Sebagian modal usahanya merupakan uang pinjaman dari seorang rentenir bernama Datuk Maringgih.)
- peristiwa-peristiwa mulai bergerak:
Datuk Maringgih mulai culas. (Bukti: Pada mulanya usaha perdagangan Baginda Sulaiman mendapat kemajuan pesat. Hal itu tidak dikehendaki oleh rentenir seperti Datuk Maringgih. Maka untuk melampiaskan keserakahannya Datuk Maringgih menyuruh kaki tangannya membakar semua kios milik Baginda Sulaiman. Dengan demikian hancurlah usaha Baginda Sulaiman. Ia jatuh miskin dan tak sanggup membayar hutang-hutangnya pada Datuk Maringgih. Dan inilah kesempatan yang dinanti-nantikannya. Datuk Maringgih mendesak Baginda Sulaiman yang sudah tak berdaya agar melunasi semua hutangnya. Boleh hutang tersebut dapat dianggap lunas, asalkan Baginda Sulaiman mau menyerahkan Siti Nurbaya, puterinya, kepada Datuk Maringgih.)

- keadaan mulai memuncak :
Samsulbahri mengetahui nasib Siti Nurbaya. (Bukti: Siti Nurbaya menangis menghadapi kenyataan bahwa dirinya yang cantik dan muda belia harus menikah dengan Datuk Maringgih yang tua bangka dan berkulit kasar seprti kulit katak. Lebih sedih lagi ketika ia teringat Samsulbahri, kekasihnya yang sedang sekolah di stovia, Jakarta. Sungguh berat memang, namun demi keselamatan dan kebahagiaan ayahandanya ia mau mengorbankan kehormatan dirinya. Samsulbahri yang berada di Jakata mengetahui peristiwa yang terjadi di desanya, terlebih karena Siti Nurbaya mengirimkan surat yang menceritakan tentang nasib yang dialami keluarganya.)

- mencapai titik puncak :
Samsulbahri dan Datuk Maringgih saling bunuh. (Bukti: Sepuluh tahun kemudian, dikisahkan dikota Padang sering terjadi huru-hara dan tindak kejahatan akibat ulah Datuk Maringgih dan orang-orangnya. Samsulbahri yang telah berpangkat Letnan dikirim untuk melakukan pengamanan. Samsulbahri yang mengubah namanya menjadi Letnan Mas segera menyerbu kota Padang. Ketika bertemu dengan Datuk Maringgih dalam suatu keributan tanpa berpikir panjang lagi Samsulbahri menembaknya. Datuk Maringgih jatuh tersungkur, namun sebelum tewas ia sempat membacok kepala Samsulbahri dengan parangnya.)


- pemecahan masalah/ penyelesaian :
setelah membunuh Datuk Maringgih, Samsulbahri pun akhirnya tewas tanpa mendapatkan gadis pujaannya Siti Nurbaya. (Bukti: Samsulbahri alias Letnan Mas segera dilarikan ke rumah sakit. Pada saat-saat terakhir menjelang ajalnya, ia meminta dipertemukan dengan ayahandanya. Tetapi ajal lebih dulu merenggut sebelum Samsulbahri sempat bertemu dengan orangtuanya dan Siti Nurbaya yang telah mendahuluinya.)

Sudut Pandang
Sudut pandang adalah visi pengarang dalam memandang suatu peristiwa dalam cerita. Untuk mengetahui sudut pandang, kita dapat mengajukan pertanyaan siapakah yang menceritakan kisah tersebut? Ada beberapa macam sudut pandang, di antaranya sudut pandang orang pertama (gaya bercerita dengan sudut pandang "aku"), sudut pandang peninjau (orang ketiga), dan sudut pandang campuran. Sudut Pandang dalam Novel : sudut pandang orang ke-3.

Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara khas penyusunan dan penyampaian dalam bentuk tulisan dan lisan. Ruang lingkup dalam tulisan meliputi penggunaan kalimat, pemilihan diksi, penggunaan majas,dan penghematan kata. Jadi, gaya merupakan seni pengungkapan seorang pengarang terhadap karyanya.
Gaya Bahasa Novel: Gaya Bahasa novel ini adalah Melayu.

Tema
Tema adalah persoalan pokok sebuah cerita. Tema disebut juga ide cerita. Tema dapat berwujud pengamatan pengarang terhadap berbagai peristiwa dalam kehidupan ini. Kita dapat memahami tema sebuah cerita jika sudah membaca cerita tersebut secara keseluruhan.
Tema Novel: Tema Novelnya adalah kisah cintayang tak kunjung padam dari sepasang anak manusia yaitu Siti Nurbaya dan Samsulbahri.

Amanat
Melalui amanat, pengarang dapat menyampaikan sesuatu, baik hal yang bersifat positif maupun negatif. Dengan kata lain, amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang berupa pemecahan atau jalan keluar terhadap persoalan yang ada dalam cerita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar